Kamis, 25 Juni 2015

Do’a, Bacaan Al-Qur’an, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati

Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:
وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى
Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi MUhammad SAW:
اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ
Apabila anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.
Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :
وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن
Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)
Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.
وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ
Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)
سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ
Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).
Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.
Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.
Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.
Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:
عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ
Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.
Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.
KH Nuril HudaKetua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama

Sumber : http://m.nu.or.id

Selasa, 09 Juni 2015

JAJANIN

Malam ini teranglah semua hal tentang dia.
Dengan berjalannya waktu tak membuat kalimat itu pupus mungkin karena terlalu buat sakit di hatinya, kalimat yang muncul dimaknai berbeda oleh dua orang yang jelas berbeda. 
Aku yang berpendidikan rendah menganggap kalimat itu keluar begitu saja tampa ada maksud menunjukkan kekecewaan karena kerugian secara materiil, kalau  pun aku merasa rugi dengan apa yang ku lakukan buat apa aku memaksakan bertemu dua kali. Kalau  rugi ya cukup sekali aja siapa orangnya yang mau rugi dua kali... coba siapa gk ada kan?
Sementara pandangan dia yang berpendidikan tinggi memaknai kalimat itu ungkapan yang menyakitkan sepanjang sejarah hidup manusia mungkin pendidikan menjadikannya seperti itu karena di bangku pendidikan dia terlalu banyak bermain kata kata baik secara verbal maupun tekstual, sehingga setiap kata dapat dimaknai dengan arah pemikirannya. 
Kalimat apa yang dapat aku ucapkan lagi kalau permohonan harap maklum yang ku utarakan waktu itu tak mampu merubah prinsip pemaknaan kalimat itu. Sudah lama rasanya pembahasan kalimat itu hilang dalam diskusi diskusi kita selanjutnya tapi entah angin apa yang menerjang setelah postingan  Instagram dan mimpi mimpi yang belum tau maknanya kalimat itu datang kembali. Dengan percaya diri terhadap pemenuhan pemaknaan mimpi dan emosi dia bayar aku dengan pulsa 200rb yang tidak dia sadari itu telah merusak pemaknaan hari hari diskusi kita. 

Buat kamu yang ada diposisi pemberi pulsa 200rb lebih cerdaslah dalam memilih cara, oke anggaplah saya salah dengan kata mengungkapkan  budi atau jasa yang saya lakukan (walau saya gk ada niat sedikitpun Demi Allah) untuk si pemberi pulsa. Bila si pemberi pulsa ini ingin membalas jasa yang pernah ia terima tidaklah perlu berkata saya balas jasa anda yang waktu itu. Dengan begitu pasti siapapun akan terhina kedepannya coba dipikirkan terlebih dahulu andakan berpendidikan. Menurut saya Lebih indah anda belikan sesuatu yang menurut anda mendekati nilai jasa tersebut lalu diberikan dengan kalimat penyerahan "aku berikan hadiah ini untuk kamu sebagai ucapan terimakasih karna sudah baik sama aku" mungkin dengan begitu terasa lebih indah dan bermakna. Karena tujuan kita bukan pembalasan kekecewaan tapi penyadaran diri.

Bila anda seperti si pemberi pulsa di atas, saya simpulkan anda adalah termasuk manusia yang RIA.
Maaf atas penghalalan pemutusan silaturahmi.
Wassalam