Kamis, 09 Juli 2015

cerita malam

Malam ini 24 Ramadhan 1436 H, posisi di warung pergerakan (versi anak PMII) warung anugrah (versi sales dan babeh) sebetulnya tak sengaja menghabiskan malam di warung mungil Di tepian jalan kota serang km 4. Ini semua terjadi karena aku lihat si uyung (bocah penunggu warung) sendirian di warung ini. Dengan ikhlas ikut menemani tapa pulang kembali ke mess. 
Sambil mengenang masa masa dulu di warung ini warung yang mulai di tempati tgl 5 Desember 2009 dan mulai ada pembeli sekitar tgl 9 nya, hadirnya warung ini tidak begitu saja atau tidak ada niatan usaha apapun, hadirnya warung pergerakan ini karena sebuah situasi/keadaan yang mendesak dimana kala itu saya yang berkuliah dengan biaya sendiri terpaksa terjepit keadaan biya kuliah karena setatus kontrak kerja di PT SPI tidak di perpanjang kala itu 5 april 2009, tapi tgl 3 April 2009 sudah di terima di PT Midi Utama Indonesia cuma sayang penempatan jauh di Tebet, tadinya sudah ambil kesimpulan lanjut kerja tinggal kuliah karena konsul sana sini (paman dan ibu) mengenai biaya kuliah ternyata mereka tak sanggup membiayai nya. Tapi entah angin apa setelah 7 hari training di PT MUI tsb. Bapak yang sejatinya bukan bapak asli (bapak tiri yang top) menelpon untuk tidak melanjutkan kerja supaya lanjut kuliah. Dengan rasa tak percaya bercampur bahagia akupun pulang tanpa lanjut kerja. Dilanjutkan setelah itu cari kerja freelance dapatlah di telkom jadi telemarketing speedy dari april sampai september setelah itu jadi mahasiswa kupu kupu (kuliah pulang kuliah pulang) dengan modal uang 2jt titipan ibu hasil gadai sawah, kujalani hidup sebagai mahasiswa selama dua bulan tanpa kost tapi tidur di kosan (kosan temen dan rumah paman). Pada saat aku nginep di kosan temen di daerah baros. Pagi pagi sekitar jam 7:30 hp berdering panggilan masuk dari bapak "haloo yu bisa ke terminal pakupatan sekarang" akupun bergegas berangkat karena khawatir bpk kehabisan ongkos buat pulang. Sesampainya di terminal akupun salaman ke bapak dan bertanya ada pak?? Bapak meminta "antar bapak ke SPBU pakupatan!!" sesampainya dekat warung nasi sebelum SPBU bapak ngajak berhenti dan duduk tepat di depan warung nasi yang ada bangkunya (bukan ada badaknya). Kemudian kami duduk menghadap ke sebarang jalan lalu bapak berkata sambil menunjuk ke sebuah objek " yu liat warung itu (warung nasi yang sudah tak terpakai penuh debu dan dedaunan kering dibawah dua pohon jati)   kira kira cocok gak buat jualan??. Aku menjawab "ya gk tau pak tapi bisa di coba" bapak bertanya sambil meyakinkan tekad "kira-kira ayu malu gak kalau jualan di warung itu dengan posisi deket kampus?" saya jawab sambil memperkuat keyakinan "Tidak daripada ngekos 350rb" bapak mengajak "ayooooo kita cari tau dan samperin pemiliknya!!.
Sampailah kami ke pemiliknya hanya dengan satu kali tanya dan terjadilah tawar menawar harga sewa dengan kesimpulan Rp 3,5 jt selama satu tahun. Jualan hari pertama gorengan tak laku satu pun, besoknya masih sama sampe hari ke tiga cuma molor aja di warung lanjut hari ke empat ada yang cari air mineral dari situlah di mulai perjalanan berjualan yang dengan suka duka yang teramat berkesan dengan dua orang karyawan saya dan bapak.
Dan dari situ pula bukan hanya biaya kuliah yang tercukupi tapi keuangan keluargapun menjadi lebih baik, dengan harus menghilangkan rasa malu kala jualan mie rebus dengan konsumen anak kampus cewek pula dan orang yang saya kenal (jadi turun pamor dech) tapi karena keinginan kuat malu, debu jalanan tak jadi soal. Karena banyak untungnya. Untungnya itu temen temen kelas yang nunggu jam kuliah ngumpul di warung dan beli jajanan ada pula yg ngutang hehehe.
Warungpun mulai memperluas jalan usaha dengan buka tambal ban motor dan jualan tabung gas.  Yang terpaksa harus rekrut karyawan 2 orang. Pada saat saya nulis ini sudah hampir 6 tahun warung ini buka dengan tanpa ditunggu bapak atau saya namun dalam kendali bapak Alhamdulillah. Dari warung ini saya bisa mendapat gelar SH. Walau tampa karir yang gemilang di bidang hukum. Tapi alhamdulillah syukuri yang ada karena tiap kita punya bagian masing masing mungkin ini bagian saya dari Allah.
Warung ini yang mengajarkan banyak arti kehidupan, di warung ini tempat kumpul sejuta nyamuk kala malam, tempat nongkrong aktivis PMII kala mau rapat dan demonstrasi (tempat simpul massa ) tempat nongkrong teman2 sekelas ngabisin waktu, kopi dan rokok. Kadang jadi tempat titipan (helm, motor, buku, tas, sepatu sampe pacar anak kampus).

Malam ini serasa bernostalgia kembali membunuh nyamuk yang mengganggu, menatap hilir mudik kendaraan kala malam, melayani pembeli, menutup muka kala bus besar lewat yang membawa debu jalanan, solat magrib dan isa di mushola SPBU, membuak gerbang kosan kala mahsiswi pulang kemalaman entah dari mana, mengisi angin ban motor dan mencoba kembali nambal ban motor yang bocor. 
Inilah warung anugrah alias warung pergerakan si sumber mata air kehidupan yang usianya sudah hampir 6 tahun yang masih berdiri kokoh walau tak sekokoh mall of serang dengan karyawan 3 orang pemuda, yang tak pernah tutup hingga saat ini (karena gak ada pintu atau cantangnya). Entah esok masih ada atau tidak. . . 
Warung anugrah
Si uyung dan si pe'i