Selasa, 09 Juni 2015

JAJANIN

Malam ini teranglah semua hal tentang dia.
Dengan berjalannya waktu tak membuat kalimat itu pupus mungkin karena terlalu buat sakit di hatinya, kalimat yang muncul dimaknai berbeda oleh dua orang yang jelas berbeda. 
Aku yang berpendidikan rendah menganggap kalimat itu keluar begitu saja tampa ada maksud menunjukkan kekecewaan karena kerugian secara materiil, kalau  pun aku merasa rugi dengan apa yang ku lakukan buat apa aku memaksakan bertemu dua kali. Kalau  rugi ya cukup sekali aja siapa orangnya yang mau rugi dua kali... coba siapa gk ada kan?
Sementara pandangan dia yang berpendidikan tinggi memaknai kalimat itu ungkapan yang menyakitkan sepanjang sejarah hidup manusia mungkin pendidikan menjadikannya seperti itu karena di bangku pendidikan dia terlalu banyak bermain kata kata baik secara verbal maupun tekstual, sehingga setiap kata dapat dimaknai dengan arah pemikirannya. 
Kalimat apa yang dapat aku ucapkan lagi kalau permohonan harap maklum yang ku utarakan waktu itu tak mampu merubah prinsip pemaknaan kalimat itu. Sudah lama rasanya pembahasan kalimat itu hilang dalam diskusi diskusi kita selanjutnya tapi entah angin apa yang menerjang setelah postingan  Instagram dan mimpi mimpi yang belum tau maknanya kalimat itu datang kembali. Dengan percaya diri terhadap pemenuhan pemaknaan mimpi dan emosi dia bayar aku dengan pulsa 200rb yang tidak dia sadari itu telah merusak pemaknaan hari hari diskusi kita. 

Buat kamu yang ada diposisi pemberi pulsa 200rb lebih cerdaslah dalam memilih cara, oke anggaplah saya salah dengan kata mengungkapkan  budi atau jasa yang saya lakukan (walau saya gk ada niat sedikitpun Demi Allah) untuk si pemberi pulsa. Bila si pemberi pulsa ini ingin membalas jasa yang pernah ia terima tidaklah perlu berkata saya balas jasa anda yang waktu itu. Dengan begitu pasti siapapun akan terhina kedepannya coba dipikirkan terlebih dahulu andakan berpendidikan. Menurut saya Lebih indah anda belikan sesuatu yang menurut anda mendekati nilai jasa tersebut lalu diberikan dengan kalimat penyerahan "aku berikan hadiah ini untuk kamu sebagai ucapan terimakasih karna sudah baik sama aku" mungkin dengan begitu terasa lebih indah dan bermakna. Karena tujuan kita bukan pembalasan kekecewaan tapi penyadaran diri.

Bila anda seperti si pemberi pulsa di atas, saya simpulkan anda adalah termasuk manusia yang RIA.
Maaf atas penghalalan pemutusan silaturahmi.
Wassalam

1 komentar:

  1. marahlah,
    bencilah, jika itu buat tenang. Tapi jangan bawa pendidikannya. karena ia tidak pernah meninggikan perihal pendidikan dalam bentuk apapun.
    marahlah hingga pemutusan hubungan.
    yang secara tiba-tiba berubah hitam belum tentu aslinya hitam.
    marahlah dengan bijak, jika memang mengenalnya dalam setiap diskusi-diskusi itu.

    BalasHapus